Sudah dua hari aku mengurung di kamar untuk meratapi nasib ku yang selalu dikatakan seperti anak kecil padahal sekarang umurku sudah 18 tahun. Tomy pun juga sepertinya sudah tak perduli dengan ku, dia selalu menuntutku untuk lebih dewasa dan mandiri. Mungkin semua ini terjadi akibat didikan dari orang tua ku yang selalu over protective dan terlalu memanjakan aku, tapi aku juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan ke dua orang tua ku. Aku sudah tidak tahu apalagi yang harus ku lakukan untuk membuat semua menjadi berubah lebih baik. Berkali mencoba untuk berubah seperti apa yang dikatakan Tomy. Namun tetap saja tak ada hasilnya bagi Tomy, meskipun menurutku sudah ada sedikit hasil. Aku dan Tomy sudah sembilan bulan jadian dan selisih umur kami adalah empat tahun, mungkin ini penyebabnya sehingga Tomy tidak bisa melihat perubahan pada diriku meski itu hanya kecil sekali yang bagiku sangat berarti karena dia selalu menganggap itu masih seperti anak kecil.
“Windy sayang, kok ngurung kamar terus sih? Ada apa, cerita dong sama mama?” mama berteriak di depan kamar ku seraya mengetuk pintu, yang semakin membuat ku kesal karena sudah mengganggu ku.
“Windy, kenapa sih anak papa jadi pemurung gini? Ada masalah ya sama Tomy, jangan gitu dong sayang. Inget, di dunia ini cowok nggak cuma satu. Ayo keluar sayang” tiba-tiba suara papa juga terdengar ikut-ikutan mama. Aku segera keluar menemui mama dan papa dengan malas-malasan.
“Nah gitu dong sayang, ya ampun mukanya kusut banget. Sekarang mau mandi dulu atau sarapan dulu?” Tanya mama sambil membelai rambutku, ku lihat adik ku sedang makan dengan lahap di meja makan.
“Windy mau mandi dulu” jawab ku, dan langsung pergi ke kamar mandi sedangkan mama dan papa masih bingung melihat perubahan pada diriku.
************************************
Selesai mandi aku segera menghampiri mereka ke meja makan untuk sarapan bersama.
“Kak, kenapa sih kok mukanya di tekuk gitu?” Tanya adik ku dengan polosnya.
“Nggak apa-apa, sudah makan saja” jawabku ketus, lalu menyendokkan nasi ke mulutku. Baru tiga sendok aku makan, HP ku berdering, saat ringtone nya lagu Gita Gutawa “Aku Cinta Dia” dengan segera aku berlari meninggalkan meja makan karena yang menelfon adalah Tomy, kalau yang lain sih nggak ku gubris.
“Hallo Tom” sapa ku dengan agak malas-malasan.
“Ndy, bisa nggak kita ketemu ntar jam satu di café biasa?” Tanya Tomy.
“Bisa” jawab ku.
“Ya sudah, sampai ketemu nanti”
“Kamu nggak jemput aku Tom?” Tanya ku dengan hati-hati.
“Nggak, aku lagi banyak kerjaan di kampus. Bisa berangkat sendiri khan?” jawab Tomy dengan dingin.
“Ya, aku bisa sendiri” lalu ku matikan telfon darinya, dengan malas-malasan aku kembali ke meja makan untuk melanjutkan sarapan ku. Namun, pikiran ku hanya tertuju pada Tomy yang sepertinya nanti siang akan membahas masalah kami dengan serius, dan satu hal yang ku takuti adalah berpisah dengannya. Aku sangat sayang sama Tomy, tapi dirinya selalu menuntut agar aku lebih baik lagi. Aku sudah berusaha Tom, tapi kenapa kamu nggak mau mengerti dengan keadaan ku. Triiing…. Aku tersadar dari lamunanku ketika sendok ku membentur piring yang ternyata nasi ku sudah habis, aku hanya tersenyum kecut lalu bergegas pergi ke kamar meninggalkan mama, papa dan adik ku yang masih bingung melihat tingkah ku.
*********************************
Arloji ku sudah menunjukkan pukul 13. 18 ketika aku sampai di café, ini berarti aku sudah telat delapan belas menit. Ku harap Tomy bisa mengerti dengan keadaan ku, tapi entahlah.
“Kamu telat delapan belas menit” Tomy langsung menegur ku saat baru sampai di café yang membuat ku semakin tak ada nyali untuk memberikan alasan.
“Maaf Tom, tadi aku”
“Aku nggak perlu alasan” tiba-tiba Tomy memotong pembicaraan ku, tidak seperti biasanya dan aku hanya bisa tertunduk tak berani melihat mukanya.
“Sepertinya kita harus jalan sendiri-sendiri dulu, aku ingin kamu berubah” sambung Tomy dengan suara yang berat dan aku semakin terkejut.
“Apa itu berarti kita putus?” Tanya ku dengan terbata-bata.
“Kamu senang kalau kita putus?” Tomy malah balik Tanya sehingga aku semakin bingung harus mengatakan apa.
“Nggak, aku masih sayang banget sama kamu Tom. Aku nggak mau pisah dari kamu.” Jawab ku sambil mengenggam tangannya dan menatapnya dalam-dalam.
“Kirain kamu bakal suka banget, Hmm maksud ku hubungan kita digantung dulu” kata-kata itu langsung keluar dari mulut Tomy yang sepertinya sangat mudah untuk mengucapkannya.
“Apa Tom?? Digantung, sampai kapan?” aku semakin tak mempercayai semua yang terjadi pada hubungan kami saat ini.
“Sampai kamu benar-benar berubah, kamu sadar nggak sih kalau selama ini kamu itu terlalu manja, nggak bisa mandiri, nggak pernah mau ngerti sedikitpun dengan aku, aku capek kalau kamu terus-terusan kayak gini” Tomy menjelaskan dengan menatap ku dalam-dalam yang membuatku seakan-akan hati ku tertusuk oleh tatapannya. Aku hanya terdiam tak dapat berkata apa-apa, hanya air mata ku yang dapat berbicara di saat ini.
“Nggak usah nangis” Tomy mengangkat dagu ku dan aku hanya terisak-isak menahan tangis ku yang benar-benar ingin meledak. “Jadi cewek jangan terlalu lemah dan cengeng, aku nggak suka. Kalau kamu kayak gini terus kapan kamu bisa berubah?” sambung Tomy.
“Aku nggak percaya saja, kalau kamu tega ngegantung hubungan kita” jelasku sambil memegang tangannya, lalu aku memeluknya dengan erat seolah tak ingin melepasnya lagi dan Tomy menyambut pelukan ku dengan hangat yang semakin membuat ku terisak, lalu Tomy mencium keningku lama sekali dan aku hanya bisa pasrah menangisi ini semua yang terjadi pada ku.
“Ini semua demi kebaikan kita sayang” ucap Tomy sambil membelai rambutku. “Ku rasa ini memang yang baik untuk kita, kita coba dan berusaha dulu. Sudah dong nagisnya, aku antar kamu pulang ya, sudah sore ntar kena marah sama mama kamu” aku hanya mengangguk tanda setuju untuk pulang bukan untuk menggantungkan hubungan kami.
******************************************
Sudah dua minggu kami tak ada hubungan, ini sih sama saja putus, bedanya harus megang komitmen untuk tetap mempertahankan cinta kami. Huftz.. aku menarik nafas dalam. Ku raih HP ku untuk menelfon Tomy.
“Hallo, ada apa Ndy?” suara Tomy kembali ku dengar setelah dua minggu tak mendengar suaranya lagi.
“Tom, aku ingin bertemu sama kamu. Ada yang ingin ku katakan padamu”
“Oh.. Ok.. di mana dan jam berapa?”
“Di tempat biasa, jam empat sore”
“Ok.. aku akan datang. Sampai ketemu nanti ya” telfon ku langsung dimatikan oleh Tomy, aku sangat sedih. Ku pikir setelah dua minggu tak ada komunikasi, dia bakal kangen sama aku tapi ternyata tak ada kata-kata I M U ataupun I L U seperti yang ku harapkan, semua biasa. Aku semakin sedih.
********************************************
Kali ini aku berangkat lebih awal, karena aku tak mau kalau aku harus telat lagi seperti dulu. Sepuluh menit kemudian Tomy datang.
“Hi.. gimana kabarnya?” Tanya Tomy, sikapnya benar-benar seperti bertemu dengan seorang teman yang sudah lama tak berjumpa.
“Baik” jawab ku dengan suara parau.
“Ada apa?” Tomy langsung menanyakan ke inti permasalahan tanpa ada pelukan kangen, ataupun canda tawa seperti dulu.
“Tom, aku rasa aku sudah berusaha semampu aku untuk berubah dari dulu. Tapi kamu selalu mengatakan jika aku tak pernah berubah. Kamu selalu menuntutku lebih, aku sudah nggak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menjadi apa yang kamu mau. Aku nggak sejalan dengan pola fikiran mu, aku sayang banget sama kamu, bahkan terkadang aku membuat mimpi yang sepertinya nggak mungkin ku capai yaitu ingin hidup bahagia selamanya sama kamu. Tapi aku nggak sempurna buat kamu, mungkin lebih baik kalau kita putus. Kamu bakal dapat yang lebih sempurna seperti apa yang kamu harapkan, sampai kapanpun rasanya aku nggak bisa untuk mewujudkan mimpi kamu. Terimakasih buat semuanya” aku pun langsung menjelaskan semuanya pada Tomy, dia hanya terdiam tak ada kata-kata sedikitpun yang diucapkannya. Setelah lima belas menit berdiam diri, aku pun segera pulang meninggalkan Tomy menyendiri di café kenangan ku bersama Tomy.
Dua tahun telah berlalu, dan kini ku lihat di café ini, Tomy menggandeng mesra dengan seorang cewek yang cantik, sepertinya seumuran dengan Tomy. Aku hanya bisa tersenyum menyaksikan semua ini, sedangkan hingga saat ini aku tetap menyendiri tak mencoba untuk memulai hubungan baru dengan orang lain karena di hati ku masih ada nama Tomy yang belum bisa ku hapus hingga saat ini.
Maafkan aku yang tak sempurna, andai saja aku sempurna dan bisa menjadi apa yang kau inginkan pasti aku masih bersama mu untuk selamanya dan cinta ku tak kan pernah tergantikan dengan cinta lainnya.
0 Korban Gue:
Posting Komentar