Di tepi jendela bis kota, aku duduk termangu menatap jalanan Solo yang begitu padat, panas terik matahari tak ku hiraukan, aku tetap terdiam di tengah hiruk pikuknya penumpang. Angin menerobos melalui celah jendela, ku rasakan semilirnya seolah membelai lembut dan ku biarkan mereka semakin merasuk dalam hati, fikiran dan jiwaku. Tanpa terasa aku terpejam menikmati suasana kedamaian dan sepiku dalam keramaian, hingga aku tersentak ketika seseorang di sampingku tanpa sengaja menyenggolku. Aku hanya menoleh sebentar, dan saat itulah mataku terbentur pada sekelebat dua bayangan tersenyum dan melambai kearahku. Aku hanya terdiam, mencoba tak peduli dengan semua keadaan ini.
“Campus… yang Campus…” teriakan kondektur membuatku semakin terkejut, segera aku mengikuti tapakan kaki beberapa perempuan yang turun di depan Campus.
Kembali aku membiarkan anganku mengalir mengikuti jejak kaki ku, lagi-lagi dua bayangan itu kembali menyapaku, aku tetap tak peduli juga. Di bawah pohon nan rindang, aku merentangkan tanganku, semilir angin kembali membelaiku lembut, aku hanya dapat terpejam menikmati setiap belaian demi belaian dan mengikuti desahan nafasku yang semakin pelan namun pasti.
“Qiqiqiqiqiqiqiqiqiqiq…..” suara tawa yang seolah mengejekku menyadarkanku dari anganku. Kembali ku melihat dua bayangan itu, mereka seolah menggodaku, mengajakku bercanda, bermain dan bernyanyi hingga aku tenggelam dalam jiwa mereka.
Aku segera menapakkan kakiku, ketika aku tersadar di sudut langit sedang berkabung dan segera ingin menangis menumpahkan segala kemelut yang sudah tak mampu lagi ia pendam. Aku berlari kecil, sesekali aku menyanyi lirih, sangat lirih bahkan mungkin telingaku sendiri tak dapat mendengarnya. Lagi-lagi aku terhipnotis oleh rayuan music alam yang semakin semarak nan syahdu, “hijau warnamu, sejuk, damai, dan aku suka suara bisingmu” seolah aku berbisik pada pohon-pohon yang menyapaku.
Dua bayangan kembali menyapaku, aku hanya tersenyum. Senyum ikhlas yang belum pernah ku berikan untuk mereka, yaa… dua bayangan itu tak lain adalah cinta dan rindu. Mereka selalu datang menyapaku, apalagi ketika aku merasa sendiri, mereka selalu mengajakku menembangkan lagu yang begitu menyayat sembilu. Merekalah yang menemaniku, dalam sepiku, dalam mimpiku, dalam tawaku, dan dalam tangisku.
“Hi.. mengapa kau mengacuhkan kami?” Tanya Cinta.
“Kami masih ingin bersamamu, katamu kau akan menjaga kami sampai kapanpun” sahut Rindu.
“Mari kita menembang lagi, menembangkan lagu rindu, lagu cinta, dan lagu kecewa. Kau pasti suka itu” tambah Cinta.
“Mengapa kalian masih mengikutiku?” tanyaku dengan tersenyum.
“Karena hatimu mudah menghafalkan lirik nyanyian kami, kau begitu menghayatinya” cinta menjawab sembari memainkan jemari tangannya.
“Apa kau sudah tak merindukannya lagi?? Mengapa kau tak menembangkan lagu kami lagi? Kami masih ingin bersamamu. Ayolah, mari kita bernyanyi seperti biasanya. Tak peduli siang, malam, sendiri, ramai, sedih maupun senang” Rindu ikutan merengek di depanku.
“Apa kau tau perasaan Tuanmu? Apa Tuanmu mendengar nyanyian kita? Apa Tuanmu peduli dengan tembangan kita, meski kita terisak hingga dada ini semakin sakit dan sesak?” tanyaku pada mereka.
“Kami tak tau, yang kami tau kau harus menembang bersama kami lagi” jawab mereka serentak.
Aku menggeleng, “tak semudah itu lagi Cinta, Rindu. Belum tentu Tuanmu senang mendengar kita menembangkan lagu itu, kita tak boleh memaksanya. Bukankah kalian ingin Tuanmu bahagia??”
“Kami ingin Tuanku bahagia” Rindu menjawab dengan suara yang amat parau, sedangkan Cinta hanya menatapku. Yaa… aku mengerti maksud mereka, tapi aku tak boleh egois. Aku kembali terdiam, menatap mereka satu persatu. Sang pohon kembali memainkan ranting dan dahannya, saling bergesekan, menciptakan suara yang begitu merdu. Ku rasakan jantungku berdesir, lalu aku terduduk di akar yang menonjol di permukaan tanah yang ku tapaki.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?” Cinta kembali mengusikku dan aku hanya menggeleng lemah, “aku tak tau Cinta.”
Kami kembali tenggelam menyelami samudera hati, ku alihkan pandanganku pada sehelai daun yang telah kering. Namun, tetap saja aku tak bergeming dari tempat dudukku dan aku tetap tak tau apa yang harus ku lakukan.
“Apa kau akan meninggalkan kami??” Rindu menarik lenganku, ku lihat wajahnya sendu, iba aku menatapnya. Namun aku tetap diam karena aku pun tak mampu menjawabnya, lalu aku menatap langit.
“Mengapa alam merenung, apa yang kau fikirkan?” Tanya Cinta sambil menatap sekeliling kami.
“Kami terharu dengan kalian, kalian jangan berpisah” jawab sang ranting.
“Tapi kami tak tau perasaan Tuanku yang sebenarnya” Rindu menyahuti.
“Biarkan hatimu mengalir gadis, biarkan dia menyusup, mencari celah dalam hatimu. Pasang surut itu biasa, itulah warna kehidupan. Kau harus mengakuinya” Sang Tanah ikut berbicara.
“Biarkan hati yang menggoreskan tinta kehidupanmu, biarkan hati yang memilih warna apa yang terbaik di hidupmu” daun pun tak ingin ketinggalan.
“Kau harus kuat Gadis, buktikan padanya kalau kau bisa seperti apa yang ia katakan” sambung Rumput.
Angin kembali membelai kami, hadir di tengah-tengah kegalauan kami. Pohon kembali memainkan music instrumentnya, menggelitik daun-daun yang bernyanyi. Aku terpejam, jantungku berdetak kuat, nadiku berdenyut, namun nafasku tetap tenang, ku rasakan darah mengalir begitu cepat. Ku dengar nyanyian Rindu, nyanyian Cinta, nyanyian kecewa, dan perlahan aku mengikutinya, meresapi setiap kata demi kata… aaaaarghz…. Indah, bahagia, sedih, kecewa, letih, cinta, rindu berkecamuk dalam anganku.
“Insya Allah, aku nggak akan ngecewain kamu…” kata itu kembali terngiang dalam ingatanku, “Aku akan menunggumu.... Jangan nakal di sana…. Baik-baik ya sayang…. Kamu tetap nggak berubah, tetap kayak anak kecil… Asal kamu tau, aku kecewa ma kamu…. Kamu nggak bisa berubah… Kamu belum berubah… Lagipula kita berjauhan.. kita jarang bertemu… Kamu belum dewasa… Aaaaaaaaaarrgggghzz…..” aku terpekik, lalu aku terjerembab dari dudukku dan segera ku raih pohon di sampingku. Lagi-lagi aku menangis, aku menjambak rambutku, aku berteriak, ku biarkan hatiku berkecamuk sekacau-kacaunya, ku biarkan pula mutiara-mutiara ini kembali menyapa dunia, jantungku semakin berdegup keras, hingga ku raih batu di depanku dan ku lemparkan jauh hingga batu itu melayang dan ntah dimana batu itu mendarat. “Gag adiiiilllllllll…. Napa kamu nggak ajarin aku untuk mematikan hati ini???” aku berteriak di tengah isakku. Ku luapkan segala kekesalan dan perasaan ku kali ini, ku biarkan semuanya mengalir apa adanya. Hingga tanpa tersadar, aku tertidur, tidur yang teramat dalam.
Perlahan aku terbangun, ketika aku mendengar suara Rindu dan Cinta saling bercanda dan tertawa. “Rindu, Cinta….” Panggilku.
“Ya Gadis, ah rupanya kau telah bangun” jawab mereka.
“Pulanglah kalian, pulanglah pada Tuanmu. Sampaikan salamku untuknya, jaga Tuanmu baik-baik” terangku sambil tersenyum.
“Kenapa?? Apa kau bosan pada kami?” Tanya mereka.
Aku menggeleng lemah, “Tidak, aku tak pernah bosan padamu. Hadirmu selalu berarti untukku, kau adalah inspirasi dan semangatku.”
“Lalu mengapa kau menyuruh kami pergi??”
“Karena kalian bukan milikku lagi, aku tak pantas memilikimu. Pulanglah pada Tuanmu, karena hanya dengan itu, Tuanmu bisa bahagia”
“Bagaimana bila kami merindukanmu??”
“Kau bisa menembangkan lagu yang sering kita tembangkan”
“Apa kau akan merindukan kami lagi, atau kau akan melupakan kami?”
“Kau akan tetap terukir di sini, sampai kapanpun itu” aku menjawab sembari menunjukkan hatiku. Ku lihat Cinta dan Rindu tersenyum.
“Baiklah kalau itu pintamu, aku akan menjaga Tuanku seperti apa yang kau mau” Cinta dan Rindu segera memelukku erat, mereka menangis.. yaa.. mereka menangis… dan segera ku hapus air mata mereka. “Gadis, apa benar kamu menyuruh kami kembali karena Tuanku yang melupakanmu??” Tanya Cinta disela isaknya.
“Aku menyuruhmu pulang, karena aku sadar.. hadirku di kehidupan Tuanmu hanya akan menambah beban, biarkan dia bebas menjalani kehidupannya” jawabku. Ku tatap langit semakin gelap, rintik mulai turun seakan alampun ikut menangis. Ku lepaskan pelukanku pada Cinta dan Rindu, ku biarkan mereka terbang kembali pada Tuannya. Di kejauhan ku lihat mereka melambaikan tangannya dan tersenyum ke arahku, aku membalasnya sembari berharap semoga hari ini benar-benar awal hidupku yang baru.
0 Korban Gue:
Posting Komentar