Sabtu, 09 Mei 2015

Begini dan Begitu, Ini dan Itu

Dewasa.
Dewasa itu apa sih? Yang aku lihat dari orang-orang dewasa, mereka memiliki tipe dewasa yang berbeda. Ada orang yang memiliki pola pikir jauh ke depan, namun acap kali aku merasakan ia memiliki ego yang juga masih teramat tinggi. Ada orang yang sikapnya selengekan seperti anak nakal, tetapi ternyata dia memiliki pola pikir yang dewasa nan bijaksana ketika serius. Ada orang yang pola pikirnya kekanakan, namun ia selalu berusaha untuk lebih mengerti dan menghargai orang lain. Bukankah orang dewasa itu yang egonya sudah merendah dan berpola pikir dewasa? 

Sepertinya dewasa itu didapat dari pengalaman. 
Jika orang yang acapkali merasa tak pernah dihargai mungkin dia akan tumbuh menjadi orang yang mampu menghargai orang lain. Jika orang yang acapkali memiliki pola pikir dewasa mungkin karena dia sudah berada di lingkungan yang sebenarnya. Setidaknya itu kalau menurutku. Iya, aku yang masih sangat hijau tentang dunia yang sebenarnya.

Perbedaan.
Pagi ini, aku menemukan sebuah blog yang membahas tentang perbedaan namun dalam lingkup keluarga ataupun pasangan yang sudah menikah. (Untuk membaca silahkan klik di sini). Ternyata benar juga, aku membayangkan sepasang suami istri yang pernah ku temui, mereka saling berlawanan. Ketika seorang yang malas ternyata berjodoh dengan yang rajin, yang suka telat berjodoh dengan yang ontime, yang keras berjodoh dengan yang lembut. Semua perbedaan yang mereka miliki serasa tak ada yang menghalangi, karena mereka sudah saling memahami dan menerima. Ya, mungkin perbedaan hanya dapat diatasi dengan menerima ikhlas. Mengerti dan menyadari kekurangan diri dan kelebihan pasangan, kemudian menyadari kekurangan pasangan dengan kelebihan pada diri sendiri.

Bukankah perbedaan adalah awal adanya saling melengkapi? 
Pernah memiliki dua orang teman yang saling bersahabat, si A pandai dalam berdiplomasi dan presentasi sedangkan si B pandai dalam teori. Mereka saling mengisi dan mereka berhasil. "Perbedaan itu sebenarnya indah kalau kita bisa memandang perbedaan itu dengan kacamata yang positif", setidaknya begitu kata blog yang kubaca.

Mendidik dengan keras.
Banyak yang bilang, ketika orang tua mendidik anaknya dengan keras justru sang anak malah sengsara. Pernah dengar jika mendidik anak jangan menggunakan kata "jangan"? Namun justru menggunakan penjelasan jika seperti itu maka akan berdampak begini. Semisal contoh ketika seorang anak mencubit temannya, cukup katakan "maukah kamu dicubit? jika tidak, mengapa kamu mencubitnya? Bukankah jika dicubit terasa sakit? Jika kamu tidak mau dicubit, mengapa kamu mencubitnya?". Bukankah cara ini lebih baik daripada memarahinya dan mengatakan "anak nakal"? karena setidaknya anak akan berpikir jika mencubit itu seharusnya tidak boleh.
Mendidik menurutku malah lebih baik dengan cara halus, namun sesekali dengan cara tegas itu juga perlu.

Lalu apa kesimpulanku kali ini?
Yah setidaknya aku hanya ingin berteriak pada diri sendiri, aku ingin begini dan aku ingin begitu. Ntah dunia ingin mendengarnya atau tidak, aku tidak peduli.

Dewasa itu butuh pengalaman nyata, bukan hanya pemikiran.
Perbedaan itu  indah jika mau saling jujur dan berpikir positif.
Cara keras tak selalu akan berhasil, karena bahkan karang yang keras juga bakal luluh oleh air.

Apakah kali ini aku salah???
Apakah pendapatku kali ini salah??
Jika iya, maukah kamu duduk di sisiku menjelaskannya dengan nada lembut???

0 Korban Gue:

Posting Komentar