Sabtu, 18 Desember 2010

HARI BAHAGIA

Pagi ini sangat cerah. Ku lirik arloji ku menunjukkan pukul 07.00, tak sabar rasanya ingin segera tiba di sekolah. “Oh.. ayah, kau tak tahu betapa inginnya aku segera sampai di sekolah” jerit ku dalam hati. Sepuluh menit kemudian aku segera berangkat dengan ayah, perasaan ku sungguh tak menentu. Satu bulan aku tak menapakkan kaki ku di sekolah, dan hari ini merupakan hari yang amat teramat ditunggu oleh semua anak SMA untuk mengetahui hasil kelulusan. Sesampai di sekolah, aku segera berlari berteriak seperti biasanya, yaa… semua tahu kalau aku memang suka berteriak, tak heran jika aku mendapat julukan suara cempreng dari teman-temanku.

“Stella….” Aku berlari menghampirinya.

“Hai… Chika… Uuuchz… miss you!!” mmuaaach…mmuaaaaaach… kami berpelukan dan bercipika-cipiki yang diselingi tawa bahagia. “Hmm… ya ampun, rambut kamu berantakan” sambung Stella.

“Iyaa nich, sisirin ya..!!” pintaku dengan manja. Stella yang memang selalu memperlakukan ku dengan manja, tak menolak permintaan ku. Dengan sedikit susah payah akhirnya rambutku rapi juga. “Makasiih….” Kata ku.

“Sama-sama” tangannya sembari mengelus rambutku dan menyerahkan sisirku.

“Hai.. Chika, gimana Andre??? Jadi datang??” Winnie berlari ke arah ku.

“Oopz.. lupa… bentar ya aku SMS dulu” jawab ku sembari meraih HP di tas ku dan segera mengirimnya SMS. Andre adalah pacar ku, yang katanya akan datang bersama temannya si Peter.

Beibz… Chika udah datang nich di sekolah.

Beibz jadi datang apa gag???

SMS segera ku kirim, dan aku kembali sibuk dengan teman-temanku melepaskan rasa rindu. Meski hanya satu bulan, tapi rasanya seperti satu tahun. Hingga acara pengumuman kelulusan dimulai, Andre tetap tak membalas SMS ku. Aku mencoba menelfonnya, namun tetap tak ada jawaban. Aku mulai khawatir, jangan-jangan mereka kenapa-kenapa atau mereka nggak jadi datang, fikirku yang mulai ngelantur semakin membuatku cemas. Sorak riuh dari teman-teman mulai tak ku perhatikan lagi, aku hanya memikirkan Andre, dan ku rasakan HP ku bergetar.

Sorry beibz, hehehehe

Aku udah dateng dari tadi

Aku ada di lapangan

“Waaaa…. Andre dateng, ayooo…buruan…!!” aku segera menarik lengan Winnie tanpa memperdulikan keadaan sekitar hingga aku menabrak semua orang yang ada di hadapanku dan yang menghalangi jalan ku.

“Iyaa.. tapi pelan-pelan dong” keluh Winnie sambil cemberut.

“Hehehehe.. sorry…” jawabku sambil nyengir kuda. “Ech.. gimana rambut aku?? Udah rapi belum?” Tanya ku setelah sampai di belakang aula. Aku segera sibuk mengeluarkan sisir, dan membenahi rambutku.

“Yaelah.. udah…. Udah rapi..” timpal Winnie. Meski begitu, aku tetap sibuk dengan rambutku sambil berjalan.

“Winnie..!!!” aku berhenti. “akuu….”

“Napa, hehehehe grogi yaa?? weegz….” Ejek Winnie sembari menjulurkan lidahnya, dan aku hanya bisa meringis. “Eh.. bawa tissue?? Sruuuutz……” Winnie mendongakkan hidungnya hingga aku tertawa terbahak, lalu ku keluarkan sebungkus tissue untuknya.

“Pilek aja kerjaannya..!!” ejekku.

‘Aaah… cerewet,, mau ku temenin nggak??” ancam Winnie lalu mengambil beberapa helai tissue dan mengembalikannya pada ku.

“Hehehe.. iya deh” aku segera menarik lengannya kembali. Lalu kami segera keluar lewat pintu samping sekolah dan segera kabur menemui Andre. Di pinggir jalan aku segera berhenti dan mencari sosok Andre dan Peter, kulihat di bawah pohon Akasia ada dua cowok yang saling memamerkan giginya, ntah tertawa, meringis karena kepanasan atau karena sedang menjemur gigi mereka… hehehehe… yang jelas sepertinya mereka tersenyum ke arah kami. Aku yang semakin salah tingkah hanya bisa senyum-senyum sendiri.

“Haii…..” sapa Andre sembari merentangkan kedua tangannya seolah ingin memelukku ketika aku mendekat, namun dengan sigap sebuah cubitan dari ku segera mendarat di bahunya. Lalu ku sambut tangannya.

“Curaaaaaang… katanya nyampe jam 08.00, kok jam gini baru datang?” Tanya ku sembari cemberut.

“sorry deh, tadi mampir dulu tempat temen deket pasar situ. Lagian katanya kangen sama temen-temen, masa aku ganggu” elak Andre.

“Hmm… iya deh” jawab ku pasrah, ku lirik Winnie dan Peter juga sedang asyik ngobrol yang denger-denger si Peter naksir ama Winnie. “ Pedekate tuh…” sela ku sambil cekikikan.

“Eh.. jalan-jalan kemana gitu masa di lapangan” ajak Peter.

“Mau kemana?” aku berbalik Tanya.

“Khan yang tau daerah sini Chika” jawab Peter.

“Ya udah deh, keliling daerah sini aja dulu. Yuuuk…!!” dan mereka pun mengangguk tanda setuju. Lalu kami jalan-jalan dan ditengah perjalanan, Andre menceletuk “kok nggak pegangan sich??”

“Nggak mau” jawab ku ketus yang diselingi ketawa kecil, dan sepertinya Andre pun juga ikut tertawa. Lalu Andre mengeluarkan dua lembar fothonya dari tas, dan diserahkan pada ku. “Nich.. kalau lagi kangen ama aku” sambungnya. Kulihat gambar dirinya, aku hanya tersenyum geli tapi dibalik itu aku juga agak kecewa, kenapa nggak fotho bareng aja??? Tapi aku hanya diam, maklum kami baru jadian yang pasti namanya rasa kikuk itu masih ada, hingga akhirnya kami kembali lagi ke sekolah untuk mendengarkan pengumuman kelulusan, sedangkan Andre dan Peter menunggu kami di luar sekolah.

Sesampai di sekolah, teman-teman segera mendekatiku. “Mana Andre??” Tanya mereka penasaran. “Ada kok, mungkin masih di lapangan” jawab ku santai.

“Kayak apa sich cowok kamu?” sela Gita. Aku dan Winnie hanya tersenyum tipis, kulihat stella dan very juga mengangguk-angguk pertanda setuju dengan pertanyaan Gita. Aku segera mengeluarkan fotho Andre yang diberinya tadi.

“ini orangnya?? Katanya jelek, nggak ah… lumayan cakep kok” seru Gita dan Very. Aku dan Winnie hanya menahan tawa lalu kami segera masuk ke Aula untuk mendengar pengumuman kelulusan dari kepala sekolah. Teman-teman segera berteriak dengan riuhnya saat kepala sekolah mencoba membikin suasana semakin tegang dan mencoba untuk membuat kami semakin penasaran.

“Waaaaaaa………” kami seangkatan berteriak bahagia dan saling berpelukan, Kami lulus 100%. Aku lalu menyeret Winnie keluar berlari menuju lapangan untuk menemui Andre, sedang teman-temanku lainnya ada yang menangis, berteriak, berpelukan, lonjak-lonjak dan masih banyak lainnya.

“Ayo Win, kasian kan Andre ama Peter kalau diterlantarin. Higz, jauh-jauh datang dari rumahnya masa kita tinggal terus daritadi” rayuku pada Winnie.

“Iya.. iya… bilang saja kalau kamu lagi pengen pacaran. Hahahahaha…” ejek Winnie sembari berlari meninggalkanku.

“Iiich… Winnie….!!!” Jeritku.

“Hahaha… kamu lucu banget sih kalau ngambek, bibirnya sampai bisa dikuncrit make karet” ejek Winnie, dan seketika aku segera menambah panjang bibirku alias memonyongkannya. Lalu kami pun tertawa terbahak dan berlari menuju keluar tempat kami bertemu tadi.

Eng ing eng…. “Mereka kemana Win?” tanyaku kecewa karena ternyata mereka tak ada di tempat semula alias pergi tanpa pamit sama sang putri pujaan hatinya ini. Hohohoho…

“Nggak tahu” jawab Winnie. Kamipun celingukan mencari mereka, namun tetap saja tak kutemukan sosoknya. Akhirnya aku segera meraih Hp dan menelfonnya.

“Aduh beibz, dimana sih? Pergi nggak bilang-bilang” serobotku setelah dijawabnya telfon dariku.

“Hehehe… bentar ya beibz. Tutz….tutz…. ” telfon terputus.

“Hah… dimatiin, uuchz… nyebelin” teriakku, serasa ingin membanting HP.

“Huuu dasar, nyebelin kayak gitu juga buktinya kamu tetep sayang sama dia” sanggah Winnie dan sebuah jitakan mendarat di kepalaku. Tak lama Andre dan Peter datang.

“Aduh.. aduh…. Ngambek nih yee” ledek Peter ketika melihatku cemeberut.

“Uuuch… Andre nyebelin, darimana tadi??” tanyaku tanpa memperdulikan ledekan Peter.

“Keliling-keliling dong” Andre yang tahu aku lagi ngambek semakin meledekku, dan segera aku melayangkan cubitan pada lengannya.

“Hahahaha…” Andre, Peter, dan Winnie menertawakanku. Lalu akhirnya kami mengendarai motor tanpa tujuan yang pasti.

Saat diperjalanan Andre menceletuk, “beibz… ke café 99 saja mau nggak??” Aku terkejut saat Andre menyebut nama café itu.

“Kok kamu tau café itu beibz?” tanyaku penuh selidik, maklum aku seorang cewek yang pencemburu. Curiga seolah Andre pernah datang ke daerah sini dan pernah ke café itu, tentunya dengan seorang cewek.

“Khan waktu itu beibz pernah bilang lagi di café 99 sama temen, waktu cowoknya lagi ulang tahun” terang Andre.

O Mi God.. iya ya… hehehe….. kirain….

Dalam hati aku tertawa menyadari kecemburuanku yang tak jelas.

“Beibz..” panggil Andre yang segera membuyarkan lamunanku.

“Eh iya, ya sudah kesitu saja beibz” aku menyetujui ajakannya sambil tersenyum. “Peter pelan banget sih naik motornya” sambungku.

“Hahaha.. kayak nggak tau orang pedekate saja sih beibz” celetuk Andre.

“Eh.. iya.. ya… hahaha… Emang Peter beneran suka sama Winnie ya beibz?”

“Nggak tahu juga sih, tapi kelihatannya seperti itu” jawab Andre dan segera berhenti di pinggir jalan menunggu Peter yang super duper lemot naik motornya.

“Ehm.. ehm…..” kami berdehem saat Peter dan Winnie mulai mendekati kami.

“Apaan sih??” sela Winnie

“Nggak, duluan gich.. Lama banget naik motor adza..!!” jawab Andre, dan aku hanya tersenyum bahagia. Bahagia karena hari ini aku lulus, bahagia karena aku hari ini ngedate ama Andre, dan bahagia melihat tingkah Winiie dan Peter yang malu-malu macan… hehehhe

0 Korban Gue:

Posting Komentar